KARNAVAL KEMERDEKAAN
Pada Senin, 18 Agustus 2025, MI Ma’arif Durensewu menyelenggarakan kegiatan karnaval sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Karnaval menjadi ruang ekspresi yang meriah namun tetap tertib: peserta didik tampil membawa tema-tema kebangsaan, budaya, dan keteladanan, sekaligus belajar bekerja sama dalam sebuah kegiatan bersama yang melibatkan madrasah, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Dalam perspektif pendidikan, kegiatan seperti karnaval tidak sekadar “seremonial tahunan”. Ia termasuk praktik pembelajaran sosial yang konkret—mendorong anak belajar nilai melalui pengalaman, bukan hanya melalui penjelasan di kelas. Prinsip ini sejalan dengan arah kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menekankan kolaborasi satuan pendidikan dengan keluarga dan masyarakat, serta penguatan karakter melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Tujuan Karnaval: Dari Perayaan ke Pembelajaran Nilai
Karnaval MI Ma’arif Durensewu dirancang sebagai kegiatan yang memiliki tujuan edukatif yang jelas:
-
Meneguhkan nasionalisme yang sehat melalui simbol, narasi, dan representasi kemerdekaan (misalnya tema perjuangan, pahlawan, dan identitas kebangsaan).
-
Melatih disiplin dan tanggung jawab: datang tepat waktu, mengikuti arahan barisan, dan menyelesaikan peran sesuai kesepakatan kelas.
-
Menguatkan gotong royong: koordinasi antar teman sekelas, wali kelas, dan orang tua/wali dalam menyiapkan atribut.
-
Menumbuhkan kreativitas melalui interpretasi tema dalam bentuk kostum, properti, dan tampilan barisan.
-
Mendorong kepedulian lingkungan: kerapian area kumpul, pengurangan sampah sekali pakai, dan kebiasaan “bersih sebelum pulang”.
Secara empiris, literatur pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan yang diisi dengan karnaval dan lomba dapat menjadi medium pembiasaan karakter—terutama ketika sekolah mengelolanya sebagai budaya sekolah yang konsisten dan terarah.
Rangkaian Kegiatan di Lapangan
Agar pembaca blog (terutama wali murid dan masyarakat) memahami alurnya, berikut rangkaian kegiatan yang dapat ditulis sebagai narasi panitia—silakan sesuaikan detail teknis sesuai dokumentasi internal madrasah:
1) Persiapan dan Koordinasi Kelas
Menjelang pelaksanaan, setiap kelas melakukan koordinasi tematik: menentukan konsep kostum/atribut, membagi peran (pembawa papan nama kelas, pembawa bendera kecil/ornamen, tim properti), dan menyepakati standar kerapian. Praktik “koordinasi sejak awal” seperti ini umum dilakukan dalam kegiatan karnaval sekolah, termasuk melalui komunikasi wali kelas dengan orang tua/wali untuk memastikan kesiapan peserta didik.
2) Pengkondisian dan Barisan
Pada hari H, peserta didik dikondisikan dalam barisan per kelas. Fokus utamanya adalah keselamatan, ketertiban, dan kenyamanan anak: pengecekan atribut yang aman, pengaturan jarak antarkelompok, serta penguatan instruksi sederhana yang mudah dipatuhi anak.
3) Pelaksanaan Karnaval
Karnaval berlangsung dengan semangat kebersamaan. Tema yang biasanya muncul dalam karnaval kemerdekaan—seperti pakaian adat, busana bertema kemerdekaan, atau simbol perjuangan—memungkinkan peserta didik belajar mencintai identitas kebangsaan melalui pengalaman langsung, bukan sekadar hafalan.
4) Apresiasi, Dokumentasi, dan Penutup
Kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama serta apresiasi bagi peserta didik. Dalam konteks pendidikan, apresiasi tidak harus selalu berupa “juara-juaraan”; yang lebih penting adalah penguatan perilaku positif: disiplin, saling membantu, serta menjaga ketertiban dan kebersihan.
Nilai Karakter yang Terlihat Nyata
Kegiatan karnaval mudah dinikmati sebagai tontonan, tetapi kekuatan utamanya justru pada pembentukan kebiasaan. Pada anak usia sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah, pembelajaran nilai lebih efektif ketika diwujudkan dalam praktik berulang melalui budaya sekolah.
Beberapa nilai yang biasanya paling “terlihat” dalam karnaval, jika dikelola dengan baik:
-
Nasionalisme: anak mengenali simbol, cerita, dan tradisi kebangsaan secara positif; karnaval kemerdekaan sering dijadikan instrumen penguatan karakter nasionalisme dalam budaya sekolah.
-
Gotong royong: anak belajar bahwa tampilan kelas bukan kerja satu orang; ada kerja tim, pembagian peran, dan saling bantu. Riset berbasis proyek karnaval juga menemukan penguatan dimensi gotong royong dalam Profil Pelajar Pancasila.
-
Kemandirian dan regulasi diri: anak belajar menyiapkan perlengkapan, menjaga atribut, dan mengikuti aturan kegiatan; studi proyek karnaval menunjukkan karakter mandiri muncul melalui proses persiapan dan pelaksanaan.
-
Kreativitas: ketika kostum/atribut dibuat sebagai proyek (misalnya menonjolkan budaya lokal atau tema kemerdekaan), kegiatan menjadi wahana kreativitas sekaligus penguatan nilai.
Catatan Praktik Baik (Agar Kegiatan Makin Berkualitas)
Agar tulisan blog juga bernilai sebagai dokumentasi mutu kegiatan, Anda bisa menambahkan “praktik baik” berikut (tanpa perlu mengklaim angka/hasil jika tidak ada data tertulis):
-
Standar keselamatan anak: atribut tidak tajam, tidak menghambat gerak/napas, dan nyaman dipakai.
-
Manajemen sampah: kantong sampah per kelas, imbauan membawa botol minum isi ulang, dan kebiasaan “bersih area kumpul”.
-
Keterlibatan orang tua/wali: dukungan pada persiapan, tetapi tetap memberi ruang anak untuk berkontribusi (misalnya merapikan, memilih kombinasi warna, menyiapkan properti sederhana).
-
Apresiasi yang mendidik: penghargaan untuk “kekompakan”, “kreativitas”, “ketertiban”, dan “kepedulian”—bukan hanya “paling bagus”.
Kerangka ini selaras dengan semangat PPK yang menempatkan kegiatan sekolah sebagai arena pembentukan karakter melalui kolaborasi sekolah–keluarga–masyarakat.
Penutup
Karnaval MI Ma’arif Durensewu (18 Agustus 2025) menjadi pengingat bahwa merayakan kemerdekaan bisa sekaligus menjadi cara mendidik: anak-anak belajar disiplin, bekerja sama, menghargai keberagaman budaya, serta merawat ruang bersama. Terima kasih kepada seluruh peserta didik, dewan guru, panitia, orang tua/wali, dan masyarakat sekitar yang telah mendukung kegiatan ini. Semoga semangat kemerdekaan terus hidup dalam perilaku sehari-hari—di madrasah, di rumah, dan di lingkungan.
Tags :
MI MAARIF NU DURENSEWU
Salam dari kami
Terima kasih telah mengunjungi website kami. Semoga informasi yang kami sajikan dapat memberikan manfaat dan membantu memenuhi kebutuhan Anda. Kami senantiasa terbuka terhadap masukan demi peningkatan kualitas layanan dan penyediaan informasi yang lebih baik di masa mendatang..
- MI MAARIF NU DURENSEWU
- @mimaarifnudurensewu
- Durensewu-Pandaan
- mimaarifdurensewu@gmail.com
- 0822-2997-7142